Fadel Itani, seorang fotografer berusia 39 tahun asal Beirut, kembali menghadapi kenyataan pahit dari serangan Israel di kota kelahirannya. Di pagi hari Rabu, Itani berhasil menangkap momen dramatis ketika sebuah roket Israel menghancurkan sebuah gedung apartemen dalam sekejap. Sebagai fotografer lepas dengan pengalaman lebih dari 16 tahun, Itani tahu betul risiko yang dihadapinya.
Menurut Itani, ia mendapatkan informasi mengenai serangan yang akan datang melalui peringatan dari Angkatan Pertahanan Israel (IDF). Peringatan tersebut meminta warga untuk meninggalkan kawasan Bashoura di ibu kota Lebanon, tempat kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran beroperasi. “Selama dua minggu terakhir, bom terus jatuh di Beirut,” ungkap Itani saat berbicara dari rumahnya.
Kisah Keberanian di Balik Kamera
Sementara banyak orang memilih untuk mengungsi dari serangan yang akan datang, Itani justru mengambil langkah berani dengan menuju ke lokasi berbahaya. Ia mengendarai sepeda motornya dari rumah keluarganya dan mencari posisi aman di belakang area parkir yang berjarak sekitar 400 yard dari target yang ditentukan oleh militer Israel.
Dengan hanya membawa kamera dan lensa sudut lebar, serta mengenakan rompi pelindung dan helm, Itani bersiap untuk menangkap momen bersejarah itu. Ia menunggu sekitar satu jam, dan pada pukul 6 pagi waktu setempat (12 malam ET), ia mendengar suara misil yang meluncur. Dalam hitungan detik, Itani memanfaatkan momen tersebut dan mengabadikan serangkaian gambar pada kecepatan 1/3000 detik, berhasil menangkap gambar misil tepat sebelum menghantam bangunan dan dampak ledakannya.
Dampak Serangan Terhadap Warga Beirut
Serangan itu tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga mengguncang jiwa warga Beirut yang telah lama hidup dalam ketegangan. Dalam sekejap, gedung tersebut hancur menjadi puing-puing. Situasi ini menunjukkan betapa rentannya kota Beirut di tengah konflik yang berkepanjangan, dan bagaimana para jurnalis serta fotografer seperti Itani berjuang untuk memberikan suara atas kengerian yang dialami oleh masyarakat.
Keberanian Itani dalam merekam momen ini menyoroti pentingnya peran jurnalis di daerah konflik. Di Indonesia, di mana berita dan informasi sering kali terputus oleh kepentingan politik, kisah Itani mengingatkan kita akan pentingnya mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang. Sebagai pembaca, kita perlu memahami konteks global yang lebih besar, terutama mengingat sejarah panjang konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap stabilitas regional, yang pada akhirnya juga berpengaruh pada Indonesia.
Kesimpulan
Fadel Itani bukan hanya seorang fotografer; ia adalah saksi bisu dari penderitaan dan ketahanan rakyat Beirut. Dalam situasi yang sangat berbahaya, keberanian dan dedikasinya untuk mengabadikan kebenaran menjadi inspirasi bagi kita semua. Sebagai masyarakat global, kita harus mendukung jurnalis yang berjuang untuk mengungkapkan realitas di lapangan, serta menyadari bahwa dampak dari konflik ini jauh melampaui batas negara dan berdampak pada semua orang.