BEIRUT, Lebanon — Di tengah malam yang kelam, Fatima Mohammed Al Omar bersama empat anaknya terpaksa meninggalkan rumah mereka di Beirut akibat perintah evakuasi dan serangan udara Israel. Mereka kini tinggal di sekolah-sekolah yang dialihfungsikan menjadi tempat penampungan, tidur tanpa selimut, dan berjuang mencari kebutuhan dasar. Keluarga ini adalah salah satu dari ribuan orang yang terpaksa meninggalkan rumah dan tidak tahu kapan bisa kembali.
Ketakutan semakin meningkat di Lebanon, yang telah lama menderita konflik berkepanjangan, bahwa Israel siap meluncurkan invasi besar-besaran ke wilayah selatan Lebanon. Al Omar dan anak-anaknya tinggal di daerah Dahieh, sebuah kawasan yang dikenal sebagai basis kelompok militan Hezbollah yang didukung Iran. Sejak 28 Februari, Hezbollah dan Israel telah terlibat baku tembak, memperburuk ketegangan di kawasan tersebut.
Operasi Militer Israel dan Dampaknya
Pekan ini, militer Israel meluncurkan operasi darat “terbatas” di selatan, sambil mengerahkan lebih banyak pasukan di perbatasan. Perintah resmi untuk evakuasi warga sipil dan ambisi Israel untuk menghilangkan ancaman Hezbollah telah meyakinkan penduduk dan analis bahwa invasi yang lebih signifikan ke wilayah Lebanon sangat mungkin terjadi. “Kami telah mengajarkan anak-anak kami untuk terbiasa dengan situasi ini karena kami tahu kami sering berada dalam keadaan perang — dan ini bukan kali pertama,” ujar Al Omar.
Serangan roket Hezbollah ke Israel pada 2 Maret lalu merupakan dukungan bagi Teheran, setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran yang memicu perang regional. Sejak saat itu, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Lebanon dan memaksa lebih dari 1 juta orang menjadi pengungsi, menurut data pemerintah setempat.
Kondisi Memprihatinkan Pengungsi di Beirut
Di Beirut, banyak keluarga yang terpaksa mengungsi tinggal di dalam mobil atau tenda, tanpa akses ke fasilitas mandi dan toilet. Beberapa orang bahkan mengaku kesulitan menemukan tempat tinggal karena khawatir dianggap terkait dengan Hezbollah dan berpotensi menarik serangan dari Israel. Salah satu pengungsi, Hasan, terpaksa meninggalkan rumahnya di kota perbatasan Khiam bersama orang tua, dua saudara perempuannya, dan anak-anak mereka.
“Mungkin dalam satu jam saya tidak akan ada di sini,” ucap Hasan yang meminta nama belakangnya dirahasiakan demi keselamatan. Ia mengaku hampir setiap hari kembali ke rumahnya untuk memastikan bangunannya masih berdiri sejak wilayahnya terkena perintah evakuasi dari militer Israel pada 2 Maret lalu. “Tidak ada rasa aman. Apa pun bisa terjadi,” tambahnya.
Pertempuran Berat di Sekitar Khiam
Pertempuran berat dilaporkan terjadi di sekitar Khiam, semakin intensif sejak militer Israel mengumumkan bahwa pasukan dari dua divisi sedang melakukan operasi darat yang ditujukan untuk memperluas “area pertahanan maju”. Dengan situasi yang semakin memburuk, banyak pihak yang khawatir akan dampak jangka panjang dari konflik ini terhadap stabilitas wilayah tersebut dan potensi krisis kemanusiaan yang lebih besar di Lebanon.
Kesimpulan
Situasi di Lebanon saat ini sangat kritis dengan lebih dari 1 juta pengungsi yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Ancaman invasi dari Israel menambah kekhawatiran di tengah ketidakpastian yang melanda negara ini. Bagi Indonesia, perhatian terhadap situasi ini penting sebagai bagian dari solidaritas kemanusiaan dan stabilitas regional yang lebih luas.